Dalam Politik, Kesetiaan Bukan Ukuran, tetapi Kepentingan

Politik sering mengajarkan satu hal yang terkadang sulit diterima: kesetiaan bukanlah ukuran utama, melainkan kepentingan. Karena itu, jangan heran jika orang yang kemarin menjadi lawan, hari ini bisa menjadi teman. Sebaliknya, orang yang dulu selalu bersama, suatu saat bisa saling berhadapan.
Bagi masyarakat awam, keadaan seperti ini sering dianggap sebagai pengkhianatan. Padahal, dalam dunia politik, hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa. Politik bergerak mengikuti kepentingan yang ingin dicapai.
Misalnya, saat pemilihan kepala daerah. Dua partai yang sebelumnya saling mengkritik akhirnya berkoalisi untuk mengusung satu calon. Mengapa? Bukan karena tiba-tiba mereka saling menyukai, tetapi karena mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu memenangkan pemilihan. Setelah tujuan itu tercapai, bukan tidak mungkin pada pemilu berikutnya mereka kembali menjadi lawan.
Contoh lain bisa kita lihat di tingkat yang lebih sederhana. Bayangkan ada tiga orang yang mengikuti pemilihan ketua organisasi. Awalnya si A dan si B bekerja sama untuk mengalahkan si C. Namun setelah C kalah, ternyata A dan B memiliki kepentingan yang berbeda. Akhirnya mereka berpisah dan bahkan saling bersaing. Apakah mereka dulu tidak setia? Belum tentu. Bisa jadi kepentingan mereka memang sudah tidak lagi sejalan.
Hal seperti ini juga sering terjadi dalam pemerintahan. Ada partai yang selama kampanye menjadi oposisi, tetapi setelah pemilu memilih bergabung dengan pemerintah. Sebagian orang kecewa, sebagian lagi menganggap itu strategi politik. Sekali lagi, keputusan tersebut biasanya didasarkan pada pertimbangan kepentingan, bukan semata-mata soal kesetiaan.
Namun, bukan berarti politik boleh dilakukan tanpa moral. Kepentingan tetap harus diarahkan untuk kebaikan masyarakat. Yang berbahaya adalah ketika kepentingan hanya untuk jabatan, kekuasaan, atau keuntungan pribadi, sementara rakyat justru diabaikan.
Karena itu, sebagai masyarakat kita tidak perlu terlalu terkejut jika melihat peta politik berubah. Yang perlu kita nilai bukanlah siapa berteman dengan siapa, tetapi untuk apa mereka bekerja sama.
- Apakah kerja sama itu membawa manfaat bagi masyarakat?
- Apakah keputusan itu membuat pembangunan lebih baik?
- Apakah rakyat menjadi lebih sejahtera?
Jika jawabannya iya, maka perubahan sikap politik masih bisa dipahami. Tetapi jika yang berubah hanya demi membagi kekuasaan dan jabatan, masyarakat berhak mengkritiknya.
Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa politik bukan dunia perasaan, melainkan dunia kepentingan. Kesetiaan dalam politik sering kali bersifat sementara, sedangkan kepentingan akan terus berubah mengikuti keadaan.
Karena itu lahir sebuah ungkapan yang masih relevan hingga hari ini:
"Dalam politik tidak ada teman yang abadi dan tidak ada musuh yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan."
Tantangannya adalah memastikan bahwa kepentingan yang diperjuangkan bukan kepentingan pribadi atau kelompok semata, melainkan kepentingan rakyat. Di situlah kualitas seorang politisi benar-benar diuji.
Posting Komentar untuk "Dalam Politik, Kesetiaan Bukan Ukuran, tetapi Kepentingan"
Posting Komentar